Jumat, 02 Desember 2016

Indonesia Akan Akuisisi Helikopter Mi-26




Sebuah delegasi dari Kementerian Pertahanan Indonesia telah menyelesaikan kunjungannya ke Rusia untuk membahas pengadaan helikopter Mi-26 untuk Angkatan Darat Indonesia (TNI-AD). Hal itu diungkapkan kepada IHS Jane pada tanggal 1 Desember 2016 oleh sumber dari Kementerian Pertahanan, dan laporan dari seorang pejabat PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Dalam kunjungan itu juga dibahas offset pertahanan, pengaturan transfer teknologi, dan bagaimana perusahaan lokal Indonesia dapat memperoleh manfaat dari akuisisi ini. PTDI diusulkan sebagai fasilitas pemeliharaan, perbaikan, dan overhaul (MRO) untuk platform Mi-26, jika akuisisi ini disetujui oleh pemerintah Indonesia. [IHS Jane]

Garuda Militer

Tanggapi Latihan Rudal Ukraina, Rusia Kerahkan Kapal Perang


Rusia menanggapi serius latihan penembakan rudal Ukraina dengan mengirimkan kapal perang  dari Armada Laut Hitam. Kekuatn  sudah mengambil tempat di barat garis pantai Crimea untuk memperkuat pertahanan udara semenanjung tersebut.
Kiev memulai uji dua hari peluru kendali pada Kamis 1 Desember 2016, yang membuat Rusia geram, dengan memasang pasukan pertahanan udaranya pada tingkat bahaya dengan berharap uji itu tidak mengganggu penerbangan internasional.
“Kapal perang dari Armada Laut Hitam sudah berada di dekat pantai barat Crimea selama uji peluru kendali, yang dijadwalkan Ukraina sejak satu hingga dua Desember,” kata sumber militer kepada Kantor Berita Rusia RIA Novosti Kamis.
“Satuan kapal pertahanan udara sudah disiagakan dalam tingkat bahaya tertinggi. Perlengkapan mereka dirancang agar secara cepat mampu menembak peluru kendali antikapal dan jelajah. Bersama dengan pertahanan udara di darat, yang ada di tanjung itu, kapal tersebut menjadi tameng, yang tidak bisa ditembus roket musuh,” kata nara sumber itu menambahkan.
Pejabat militer Ukraina, Vladimir Krizhanovsky, sebelumnya mengatakan kepada saluran televisi 112 bahwa latihan itu sudah dimulai dan semuanya berjalan dengan mulus. “Uji coba itu dilaksanakan sesuai dengan hukum internasional,” kata Krizhanovsky.
Dia mengatakan uji coba tersebut dilaksanakan setidaknya 30 kilometer dari ruang udara Crimea. “Oleh karenanya itu adalah sikap yang salah jika mencela Ukraina,” katanya menegaskan.
Rusia merebut Crimea dari Ukraina pada tahun 2014, yang dipandang Ukraina dan sebagian besar komunitas internasional sebagai perampasan ilegal pada tahun 2014 setelah munculnya protes masyarakat yang menggulingkan Presiden Ukraina yang pro-Rusia.
Pihak Ukraina mengatakan uji coba yang berlangsung di Selatan wilayah Kherson dan berbatasan dengan Crimea itu, merupakan tindakan sah akan dilakukan sesuai kerangka kerja kewajiban dan perjanjian internasional.
“Kami akan terus meningkatkan kemampuan pertahanan negara kami dan melanjutkan uji peluru kendali serta pelatihannya,” kata Sekretaris Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional, Oleksander Turchynov, Rabu.

Ini Alasan Kenapa S-300V4 Rusia Sangat Aktif di Crimea


rudal
Seperti dilaporkan sebelumnya, sejumlah system pertahanan rudal udara S-300V4 milik Rusia tampak sangat aktif di wilayah Crimea. Hal ini dilakukan untuk menanggapi Ukraina yang memulai uji coba rudal  yang akan berlangsung dua hari mulai Kamis 1 Desember 2016.

Batalnya perjanjian menandai tingkat ketegangan baru pada dua negara yang pernah bersekutu itu, dimana keduanya terlibat konflik pada 2014 setelah Rusia menduduki Krimea dan mendukung gerakan separatis pro-Rusia di wilayah Timur Ukraina.
Pihak Ukraina mengatakan uji coba yang berlangsung di Selatan wilayah Kherson dan berbatasan dengan Krimea itu, merupakan tindakan sah akan dilakukan sesuai kerangka kerja kewajiban dan perjanjian internasional.
“Kami akan terus meningkatkan kemampuan pertahanan negara kami dan melanjutkan uji coba rudal serta latihannya,” kata Sekretaris Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional, Oleksander Turchynov, Rabu.
Kementerian Pertahanan Rusia menuduh Ukraina tengah membuat situasi yang mengkhawatirkan dan mengakfifkan pertahanan udara berbasis di laut dan darat pada tingkat bahaya sebagai respon uji coba tersebut, media Rusia melaporkan.
Juru bicara Rusia di Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan kepada pewarta pada Rabu, bahwa dirinya tidak tahu apakah Presiden Vladimir Putin meminta Kementerian Pertahanan untuk menyiapkan respon militer terhadap uji coba yang dilakukan Ukraina.
Dia menjawab sebuah pertanyaan tentang laporan media Ukraina yang menyebutkan Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan kepada utusan militer Ukraina bahwa pihaknya akan menembak jatuh rudal apapun dan menghancurkan situs peluncuran jika Ukraina melakukan uji coba peluncuran rudal di wilayah udara dekat Krimea.
“Di Kremlin kami tidak ingin melihat tindakan apapun yang dilakukan pihak ukraina yang menembus hukum internasional dan menciptakan kondisi berbahaya bagi penerbangan internasional yang melintasi wilayah Rusia dan wilayah lain yang berdekatan,” kata Peskov.
Pada September lalu, Rusia menggelar latihan perang berskala besar di sepanjang distrik militer Selatan, termasuk Krimea, yang dipandang Ukraina dan sebagian besar komunitas internasional sebagai perampasan ilegal pada tahun 2014 setelah munculnya protes masyarakat yang menggulingkan Presiden Ukraina yang pro-Rusia.

Indonesia- Rusia Terkunci di Pembicaraan Intensif Soal Kesepakatan Su-35


SU-35 / Tass

Jakarta dan Moskow masih terkunci dalam pembicaraan intensif untuk mencapai kesepakatan penjualan jet tempur Su-35. Kabar terakhir dari Rusia menyebutkan, kesepakatan telah mencapai kemajuan dan akan mencakup pembelian 10 jet tempur yang disebut NATO sebagai Flanker-E tersebut.
“Ada prospek dan pembicaraan yang sangat intensif,” kata ajudan presiden Rusia yang bertanggung jawab pada  kerjasama pertahanan dan teknologi, Vladimir Kozhin, mengatakan kepada TASS News Agency Kamis 1 Desember 2016. Namun Kozhin tidak memberikan rincian  detail  dari negosiasi kontrak yang sedang berlangsung.
Selama lebih dari satu tahun sekarang, Rusia telah mendorong  keras untuk bisa menjual jet tempur generasi ke-4++ ke Indonesia. Namun,kesepakatan muncul tenggelam.
Bulan lalu, kata seorang pejabat pertahanan Indonesia dalam sebuah wawancara telepon dengan Reuters mengatakan  Indonesia tertarik untuk membeli  sembilan atau sepuluh jet tempur Su-35S. “Kami masih melakukan negosiasi,” tambahnya. “Kami masih tawar-menawar, ‘berapa banyak yang Anda ingin mereka jual untuk kita?'”
Selain itu, manajer senior eksportir senjata Rusia  , Rosoboronexport, menegaskan bahwa pembicaraan bilateral terus dilakukan. “Pembicaraan bilateral pengiriman jet tempur multirole  Su-35 sedang dilakukan sangat aktif,” kata Sergei Goreslavsky selama Pameran Indo Defense 2016 di Jakarta awal November lalu.
Sebuah komisi kerjasama militer-teknis bersama memulai pembicaraan di akhir November 2015 di Jakarta untuk membahas rincian kontrak, termasuk transfer teknologi. Indonesia menerapkan aturan  setidaknya 35 persen dari teknologi pesawat harus  ditransfer ke negara itu sebagai bagian dari kesepakatan pertahanan.
Rusia dan Indonesia gagal untuk menandatangani kontrak pada awal 2016 ketika sejumlah pihak memperkirakan kesepakatan ini akan diteken  selama KTT Rusia-ASEAN Mei 2016, tetapi hal itu tidak terwujud.  Juga, tidak ada kontrak yang ditandatangani  selama kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu ke Moskow pada bulan April, 2016.
Rincian yang tepat dari kesepakatan jet tempur Indonesia-Rusia masih belum diketahui. Sejumah laporan masih saling bertentangan, terutama tentang jumlah pesawat.
Awalnya,  Indonesia diperkirakan akan membeli 16 pesawat tempur baru. Jumlah ini kemudian turun menjadi  10 ketika pembicaraan berkembang. Laporan lain menyebutkan hanya delapan unit yang dibeli dengan opsi menambah dua pesawat. Kontrak di bawah negosiasi juga mencakup pelatihan pilot dan transfer pengetahuan melalui program pertukaran militer.
TNI Angkatan Udara saat ini  sedang melakukan  upaya modernisasi senjata utamanya. Pada tahun 2018, mereka  mengharapkan untuk melantik sepuluh jet tempur F-16A / B di samping 14 yang saat ini dalam pelayanan. Indonesia juga mengoperasikan pesawat tempur Rusia yang lebih tua termasuk 11 Su-30 dan lima Su-27.
Sumber: JT, Diplomat

Kamis, 01 Desember 2016

S-300V4 Terlihat Sangat Sibuk di Crimea


Sputnik
Puluhan truk dan kendaraan yang menjadi bagian dari system pertahanan rudal S-300V4 terlihat di Crimea.
Puluhan truk dan kendaraan tampak berjajar di pinggir jalan perkotaan di Crimea yang sebelumnya merupakan wilayah Ukraina. Kendaran kemudian  bergerak ke sebuah wilayah yang lebih lengang.
Sistem rudal pertahanan S-300V4   dikembangkan dari S-300 memiliki daya jangkau 400 km yang berarti setara dengan S-400. S-300V4 dilengkapi dengan rudal jarak jauh baru yang mampu menyelesaikan tugas-tugas pertahanan rudal.
Dengan kisaran 400 km, S-300V4 sangat meyakinkan karna pesawat AEW (Airborne Warning and Control System) tidak akan dapat memasuki zona 400 kilometer.
Sistem pertahanan rudal yang juga disebut sebagai “Antey-2500” juga telah dikirim ke Suriah untuk mendampingi S-400. Kelebihan dari S-300V4 adalah kemampuan untuk mencegat rudal, bukan hanya pesawat.
Persediaan sistem S-300V4 untuk Angkatan Darat Rusia dimulai pada 2014. Sistem ini juga dianggap 2,5 kali lebih efisien daripada pendahulu mereka.
Keberadaan S-300V4 di Crimea dipastikan akan menjadi tantangan bagi pesawat-pesawat NATO yang kerap melakukan patroli di kawasan tersebut. Penempatan S-400 yang memiliki daya jangkau 400 km di Crimea akan dengan mudah memantau kawasan Laut Hitam. Setidaknya keberadaan S-400 akan mengganggu kenyamanan terbang mereka.



Panglima TNI: Bersatulah, Asing Bernafsu Kuasai Kekayaan Kita


jenderal-tni-gatot-nurmantyo
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo mengakui negara asing sangat bernafsu untuk menguasai kekayaan Indonesia.  Salah satu cara yang digunakan adalah dengan memecah belah persatuan bangsa.

Hal itu disampaikan Gatot saat  memberikan kuliah umum di Gedung Auditorium Utama Harun Nasution, Kampus UIN Jakarta Selasa 29 November 2016. Di hadapan sekira 2.000 mahasiswa, Panglima TNI mem-beberkan ada indikasi kekuatan asing yang ingin menguasai ke-kayaan alam Indonesia, melalui memecah belah bangsa.
“Indikasinya jelas, karena memang sudah kita analisis lama. Kekuatan asing sangat menginginkan kekayaan alam kita, salah satunya adalah bagaimana membuat bangsa kita pecah, lalu mereka masuk dengan program ekonominya,” kata Gatot.
Jenderal bintang empat  itu mencontohkan, banyak kejadian yang dianggap tak lepas dari keterlibatan pihak asing, di antaranya adalah saat provinsi Timor-Timor lepas dari NKRI, serta ketegangan yang kini terjadi di sekitar Kepulauan Natuna atau Laut China Selatan.
“Indonesia memiliki banyak wilayah hotspot yang di dalamnya banyak terkandung energi minyak dan gas. Setiap ada ketegangan di wilayah tersebut, pasti ada kepentingan asing yang terlibat,” ungkapnya.
Untuk Jenderal Gatot  mengajak, agar semua komponen masyarakat termasuk para mahasiswa untuk terus menggalang semangat persatuan dalam perbedaan suku, agama, ras maupun antargolongan yang ada di Indonesia.
“Jaga terus persatuan, saya harap ade-ade mahasiswa bisa menjadi garda terdepan dalam membantu pemerintah menjaga stabilitas nasional negara kita,” tutupnya.

Singapura Resmi Gunakan Aerostat, Indonesia Kian Mudah Dipantau


aerostat-singapura
Angkatan Bersenjata Singapura (SAF) telah memulai  tes lokal dari sistem aerostat yakni balon udara sepanjang  55 m dan ditambatkan  untuk meningkatkan cakupan radar udara dan pengawasan maritim mereka.

Sistem ini  dapat mendeteksi ancaman udara dan lewat laut pada jarak hingga 200 km dan  akan dioperasikan oleh Angkatan Udara  Singapura (RSAF) di Choa Chu Kang Camp, yang terletak di bagian barat pulau.
Aerostat dioperasikan oleh delapan personel awak darat  dan memiliki ketinggian operasi maksimum 2.000 ft (600 m). Sistem terdiri dari   pesawat helium, kabel tali yang terbuat dari Kevlar, stasiun mooring, sistem winch berkekuatan tinggi, dan  sensor yang dirahasiakan.
Sistem  yang awalnya direncanakan akan dilantik  tahun 2015, ini diresmikan dalam sebuah acara media pada 29 November bersamaan dengan kunjungan Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng Hen ke situs penyebaran  aerostat ini.
Berbicara kepada wartawan di sela-sela kunjungannya, Ng menggambarkan aerostat sebagai sistem  yang akan melengkapai  jaringan radar darat dan sensor udara untuk melalukan pengawasan udara dan maritim.
“Semua dari kita mengakui bahwa Singapura adalah sebuah pulau yang sangat kecil, dan itu  membuat kita sangat rentan terhadap ancaman baik dari udara atau laut,” kata Ng sebagaimana dikutip IHS Jane.
“Fakta bahwa kita memiliki [sistem aerostat] menambahkan lapisan pertahanan, dan keyakinan dalam  mendeteksi  ancaman udara dan maritim,” tambahnya.
Keberadaan aerostat ini jelas akan semakin memudahkan Singapura untuk mengintip apa yang terjadi di udara dan perairan Indonesia. Keberadaan skuadron 16 Pekanbaru yang diperkuat F-16 akan lebih mudah  dideteksi oleh Singapura.
Pada 2014 lalum Kepala Staf TNI-AU, Marsekal IB Putu Dunia kala itu mengakui kenyataan radar ini bisa mendeteksi ancaman hingga sejauh 200 kilometer, atau dua kali lipat radar darat yang dimiliki kini, sehingga bisa mendeteksi pergerakan pesawat di Semenanjung Malaka bahkan kapal kecil sekalipun yang berlayar dari Kota Pekanbaru di Indonesia.