WASHINGTON -- Presiden Barack Obama meminta Kongres Amerika Serikat untuk menyetujui dana 500 juta dolar AS (sekitar Rp 6,056 triliun) untuk melatih dan mempersenjatai kelompok oposisi bersenjata di Suriah. Dana tersebut akan membantu kelompok oposisi membela diri menghadapi serangan rezim, demikian isi pernyataan Gedung Putih.
Bantuan, tambah Obama, juga akan ditujukan untuk menghadapi kelompok garis keras di Irak dan Levant (ISIS). kemajuan Pergerakan ISIS di Irak membuat sejumlah anggota Kongres untuk menekan Presiden Obama.

"Pendanaan ini akan mendukung usaha pemerintah Washington yang sejak lama berupaya memperkuat oposisi Suriah, baik sipil maupan bersenjata," kata Gedung Putih seperti dilansir BBC, Jumat (27/6).
Dana tersebut akan membantu dalam menstabilisasi daerah kekuasaan oposisi serta mengatasi ancaman teroris. Gedung Putih menambahkan kelompok oposisi yang menerima dana akan diseleksi lebih dulu untuk mengatasi kekhawatiran peralatan akan dikuasai pihak musuh.
Presiden Obama mendapat tekanan dari sejumlah anggota Kongres untuk meningkatkan bantuan di kawasan tersebut. Bulan lalu Obama telah mengisyaratkan peningkatan bantuan bagi oposisi Suriah dalam pidato di akademi militer West Point.
Sumber : Republika

SEOUL -- Korea Utara meluncurkan tiga roket jarak dekat di lepas pantai timurnya, Kamis. Peluncuran tersebut berselang satu hari setelah Korut menentang perilisan film komedi Amerika tentang pembunuhan Kim Jong-un.
Roket ditembakkan dari dekat Wonsan di timur Pyongyang. Roket terbang sejauh 118 mil sebelum akhirnya jatuh di perairan antara Korut dan Jepang.
"Kami menganalisa data kami dan mencoba mencari tahu jenis proyektil dan mengapa Korut menembakkannya. Militer kami telah meningkatkan aktivitas pengawasan untuk mengantisipasi jika Korut menembakkan proyektil lagi," ujar seorang pejabat di Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan, dikutip dari New York Times, Kamis (26/6).
Korut kerap menembakkan misil atau roket jarak dekat di lepas pantai timur saat latihan militer atau saat ingin menaikkan ketegangan. Belum jelas apakah peluncuran roket itu terkait dengan perilisan film.
Korut menyatakan perang jika film tetap akan dirilis Oktober mendatang. Film 'The Interview' yang dibintangi Seth Rogen dan James Franco menampilkan plot tentang pembunuhan Presiden Korut Kim Jong Un.
Film komedi tersebut menceritakan kisah seorang pembawa acara talk show dan produser yang secara kebetulan dapat mewawancarai Kim. Setelah itu, Central Intelligence Agency (CIA) merekrut pasangan itu untuk membunuh Kim.
--------------------------------------------------------------------
Korut Uji tembak Rudal Baru?
Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) pada Jumat mengumumkan negara itu telah melakukan uji-coba penembakan "rudal taktis" yang baru dikembangkan. Rudal tersebut disebut memiliki kecepatan ultra.
Pemimpin DPRK (Korea Utara) Kim Jong Un memandu uji-coba penembakan tersebut di pos pemantauan pusat, kata kantor berita resmi Korut, KCNA.
Kantor berita itu memuji senjata baru tersebut sebagai "keberhasilan baru yang gemilang" dalam upaya memproduksi peralatan dan senjata dengan ketepatan tinggi, lebih ringan, otomatis dan cerdas.
Uji-coba penembakan juga membantu Angkatan Darat Rakyat Korea memperoleh "master key" untuk memproduksi rudal jarak dekat dan menengah klas dunia dan memaksimalkan kekuatan dan ketepatan serangan mereka, tambah KCNA.
Kim mengungkapkan rasa puasnya dengan hasil peluncuran rudal tersbeut. Ia juga menyampaikan kepercayaan bahwa negerinya akan memproduksi lagi senjata kendali taktis dengan ketepatan tingi yang mampu dioperasikan dalam perang modern.
Sumber : Republika
PYONGYANG, (IMD) - Pasukan militer Republik Demokratik Rakyat Korea (DRPK) atau Korea Utara dalam kondisi siaga, setelah mereka menguji tembak rudal di wilayah timur negaranya. Media Korut pun merespon uji tembak rudal itu sebagai ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.
Media Korut, Rodong Sinmun, hari Jumat (27/6/2014) merilis laporan bahwa Korut mengalami penderitaan akibat ulah AS. Di mana AS telah membawa banyak penderitaan dan bencana bagi bangsa Korea dengan memprovokasi Perang Korea yang terjadi di tahun 1950-1953, yang mereka sebut sebagai "Perang Pembebasan Tanah" di Korut.
“Tidak ada pembenaran bagi kejahatan imperialis Amerika yang telah dilakukan selama konflik bersenjata selama tiga tahun ini,” tulis media Korut itu.”Namun, AS nampaknya tidak mau belajar dari kekalahan mereka dalam konflik ini dan terus maju untuk memusuhi kebijakan DPRK, yang merupakan sisa musuh rakyat Korea,” lanjut laporan itu.
Pada tanggal 25 Juni 2014, pertemuan besar-besaran diadakan di seluruh wilayah Korut untuk mengenang awal Perang Korea. Perang itu berakhir dengan gencatan senjata pada tahun 1953. Sejak itu, Korut membenci AS dan sekutu-sekutunya karena dianggap sebagai provokator perang.
Dalam uji tembak rudal, pemimpin Korut, Kim Jong Un turut mengawasi langsung manuver rudal . Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan bahwa pengawasan langsung oleh Jong-un itu untuk memastikan uji tembak dapat berjalan sukses.
Uji tembak rudal yang berlangsung Kamis kemarin terjadi pada saat AS dan Korea Selatan sedang berupaya lebih nekat untuk mengisolasi DRPK. ”Dan Melancarkan perang agresif,” tulis KCNA.
Sumber : Sindonews

WASHINGTON - China secara mengejutkan menyatakan akan mengikuti latihan perang akbar yang digagas oleh Amerika Serikat (AS) di wilayah Hawai. Ini adalah kali pertama kedua negara itu melakukan latihan perang bersama.
Melansir Reuters, Jumat (27/6/2014), beberapa pengamat beranggapan, latihan perang ini tidak akan mengubah hubungan kedua negara. Beberapa pihak bahkan berasumsi China mengikuti latihan ini hanya semata-mata untuk memperkuat militer mereka.
"Ini (latihan perang) menguntungkan kedua negara dan membantu komunikasi. Ini situasi yang menguntungkan," ungkap Kepala Angkatan Laut AS, Laksamana Jonathan Greenert, mengomentari mengenai keterlibatan China dalam latihan perang itu.
Kementerian Pertahanan China, dalam sebuah pernyataan, mengungkapkan, partisipasi China dalam latihan perang itu menunjukkan kesediaan China untuk mempromosikan perkembangan yang sehat dari hubungan militer dengan AS.
22 negara akan mengikuti latihan perang selama lima minggu di wilayah Hawai. Sekitar 55 kapal, lebih dari 200 pesawat dan sekitar 25.000 personil militer akan berpartisipasi dalam latihan perang yang diberi nama Rim of the Pacific (RIMPAC).
Latihan ini diharapkan mampu membangun sebuah kepercayaan dan membantu mencegah kesalahpahaman antar negara di wilayah perairan internasional yang bisa meningkat menjadi krisis.
Sumber : Sindonews
WASHINGTON - Pemerintahan Barack Obama telah menerbangkan sejumlah pesawat bersenjata baik berawak maupun nirawak (drone) di wilayah udara Irak, kemarin. Pentagon mengatakan, tindakan itu untuk melindungi keselamatan para pegawai Amerika Serikat (AS) yang bekerja di Irak.
”Apa yang akan saya katakan adalah bahwa kami terus menerbangkan, baik pesawat bersenjata berawak maupun pesawat tak berawak di wilayah udara Irak. Itu perintah pemerintah, terutama untuk pengawasan,” kata juru bicara Pentagon, Laksamana John Kirby, seperti dikutip Reuters, Sabtu (28/6/2014).
"Alasan bahwa beberapa pesawat bersenjata dikerahkan adalah untuk memberikan perlindungan kepada beberapa penasihat militer AS. Operasi pesawat itu juga di luar batas-batas keduataan AS di Baghadad,” lanjut Kirby.
Misi pesawat bersenjata AS itu akan berlangsung antara 30 hingga 35 hari, untuk membantu pemerintah Perdana Menteri Nuri al-Maliki dalam mengusir militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Sudah lebih dari dua tahun setelah pasukan AS menarik diri, Gedung Putih telah mengabaikan seruan permintaan agar pasukan tempur AS dikerahkan kembali ke Irak.
Pemerintahan Obama mengaku telah bekerja untuk mempercepat pengiriman senjata AS yang dipesan Irak.
Irak sebenarnya telah memesan 800 rudal, sejumlah helikopter, tank dan kendaraan perang lainnya. Kirby menyebut, pesanan Irak itu akan tiba dalam beberapa pekan mendatang.
Namun, hal itu dianggap lamban oleh Irak. Negara itu, akhirnya berharap kepada Rusia untuk mengirimkan pesawat jet tempur yang akan digunakan untuk menumpas ISIS.
Sumber : Sindonews

BAGHDAD - Perdana Menteri Irak, Nuri al-Maliki mengaku kecewa dengan Amerika Serikat (AS) yang lamban mengirimkan pesawat jet tempur yang dipesan untuk melawan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Maliki bahkan blak-blakan mengaku ditipu AS terkait kontrak pembelian pesawat jet tempur. Irak kini berpaling ke Rusia. Maliki berharap bisa memperoleh pesawat jet tempur Rusia dan Belarusia dalam beberapa hari ini. “Insha Allah dalam waktu satu minggu cara ini akan efektif dan akan menghancurkan sarang teroris,” katanya.
Dia mengatakan bahwa proses pembelian jet AS bertele-tele.”Saya akan jujur dan mengatakan bahwa kami tertipu ketika kami menandatangani kontrak (dengan AS)," kata Maliki.
”Kita harus berusaha untuk membeli jet tempur lain seperti dari Inggris, Prancis dan Rusia untuk mengamankan wilayah udara. Jika kita memiliki perlindungan udara, kita akan bisa melewati apa yang telah terjadi,” lanjut Maliki.
Menurutnya, Irak akan memperoleh pesawat jet tempur bekas dari Rusia dan Belarusia. ”Seharusnya tiba di Irak dalam dua atau tiga hari,” imbuh dia, dalam wawancaranya dengan BBC, semalam (26/6/2014).

AS yang mengklaim mendukung pemerintah Irak, telah menekankan bahwa militan hanya bisa dikalahkan oleh pasukan Irak sendiri. Keengganan AS untuk membantu Irak secara langsung itu, membuat pemerintah Maliki mencari bantuan lain, yang kemungkinan dari tetangganya, Iran.
Menurut Maliki, Irak telah minta agar dikirim pesawat jet tempur Sukhoi Su-27. Pesawat jet tempur jenis itu mirip dengan pesawat yang membombardir sarang ISIS di Irak yang disebut-sebut berasal dari militer Suriah.
Sumber-sumber militer dan pemberontak mengatakan serangan itu terjadi di Irak, di persimpangan Qaim, meskipun Maliki mengatakan hal itu dilakukan di wilayah Suriah. Sumber militan telah melaporkan selama dua hari yang pesawat jet tempur Suriah menghantam wilayah Qaim, dan Rutba, Irak.
Serangan itu berlangsung dua hari. Pertama menewaskan 70 orang, dan serangan di hari kedua menewaskan 20 orang.
Sumber ; Sindonews
kapal perang pertama buatan india kelas korvet anti kapal selam 'INS Kamorta' siap untuk ditugaskan oleh Angkatan Laut India bulan depan, kata para pejabat pertahanan india beberapa hari yang lalu
dibangun oleh Garden Reach Shipbuilders & Engineers Ltd (GRSE) di Kolkata , kapal itu akan menjadi kapal perang pertama yang dipersenjatai dengan peluncur roket produksi lokal untuk peperangan anti kapal selam, katanya.
Korvet tersebut sedang bersiap untuk berlayar keluar dermaga GRSE di Kolkata untuk bergabung dengan armada timur Angkatan Laut di Vishakhapatnam pada bulan Juli, kata para pejabat pertahanan india menambahkan.
kapal perang canggih di Garis depan dengan fitur siluman juga akan menjadi kapal perang pertama yang dipersenjatai dengan peluncur sekam baru — Kavach.
Dengan berat sekitar 3400 ton, kapal ini dapat mencapai kecepatan maksimum 25 knot. kapal ditenagai oleh empat mesin diesel 3888 KW hasil rancangan produksi lokal dengan kekuatan 1050 rpm dan bisa menjangkau hampir 3.500 mil laut di kecepatan 18 knot.
Panjang keseluruhan kapal adalah 109 meter dan lebar hampir 13 meter itu pada tonjolan batas maksimal (batas tertinggi).
Dengan sekitar 90 persen komponen kapal buatan lokal, dan kapal juga mampu menempatkan sebuah helikopter, serta dapat memberi pukulan yang signifikan untuk kemampuan anti-kapal selam .
Sumber : http://timesofindia.indiatimes.com/india/First-indigenous-anti-submarine-warfare-ship-ready/articleshow/37127127.cms