Sabtu, 28 Juni 2014
Shkval, Rudal Bawah Air yang Tak Terkalahkan
IMD - Pada 1977, Angkatan Laut Soviet memiliki torpedo yang dapat meluncur di bawah air pada kecepatan 200 knot atau 370 kilometer per jam. Meski masih dirahasiakan, Shkval atau Squall menarik perhatian masyarakat luas dalam skandal mata-mata pada tahun 2000.
Meski telah ada terobosan teknologi dalam persenjataan konvensional, serangan torpedo oleh kapal selam masih menjadi ancaman nyata bagi kapal dan awak kapal, bahkan di paruh kedua abad ke-20.
Kapal selam yang dipersenjatai torpedo harus mendekat hingga jangkauan serang yang tak terdeteksi. Namun fitur anti-kapal selam dan antitorpoedo memungkinkan kapal permukaan dan kapal selam musuh dapat mengatasi ancaman dari bawah secara lebih efektif.
Kapal selam Soviet periode 1960-an dan 1970-an lebih inferior dibanding model AS dalam hal level deraunya, sehingga para ahli mesin Moskow berupaya untuk membuat desain senjata baru yang revolulsioner. Shkval akhirnya mulai digunakan pada 1977 setelah dikembangkan selama sepuluh tahun.
Dengan kecepatan 200 knot yang belum tertandingi, Shkval dua kali lebih cepat daripada torpedo screw-driven tradisional, yang masih menjadi senjata kapal selam utama di armada-armada dunia.
Keunggulan kecepatan ini dicapai dengan mesin roket dan menggunakan superkavitasi, moncong depan torpedo menciptakan gelembung gas di sekeliling seluruh permukaannya pada kecepatan tinggi untuk mengurangi gesekan di dalam air.
Setelah torpedo diluncurkan dari tabung, autopilot yang telah diprogram sebelumnya akan meluncurkan roket berbahan bakar padat sesuai jalur dan kedalaman yang diperlukan ketika berakselerasi untuk membentuk gelembung gas. Ketika bahan bakar motor awal habis, bagian belakang torpedo dibuang dan mesin utama yang didorong dengan bahan bakar berbasis lithium hidroreaktif akan melaju ke depan.
Air laut kemudian masuk melalui lubang di moncong kapal selam, sehingga memungkinkan torpedo ini melaju pada kecepatan penuh sampai 15 kilometer dan hanya ujungnya yang bersentungan dengan air.
Meski superkavitasi menghalangi efektivitas penggunaan sistem homing pada senjata ini, kekuatan eksplosifnya yang besar sungguh luar biasa, yakni setara dengan sebuah ledakan nuklir 150 kiloton TNT, sehingga kapal selam musuh atau kapal permukaan yang berada di radius satu kilometer jelas akan hancur.
Shkval 533 mm dimiliki oleh sebagian kapal selam nuklir Soviet dan dianggap sama efektifnya baik sebagai senjata penyerang maupun pertahanan ketika kapal selam musuh menyerang.
Shkval mampu menjangkau enam kilometer dalam satu menit dan dapat melakukan serangan balik dengan cepat. Kapal selam AS memiliki keunggulan dalam kemampuan siluman ketika mendekati dan melancarkan serangan pertama, sementara torpedo berkecepatan tinggi ini dapat ditembakkan sebelum melakukan tindakan mengelak. Jadi meski kapal selam yang mengelak itu mungkin tidak dapat memperbaiki data kendali torpedo yang sudah di dalam air, daya ledak Shkval dijamin memberi serangan balik yang dahsyat.
Senjata unik ini memungkinkan Angkatan Laut Soviet untuk menambal kelemahan kemampuan siluman kapal selamnya, sebelum hal itu berhasil diatasi pada awal 1980-an.
Shkval populer karena sebuah kasus spionase pada tahun 2000, ketika mantan perwira angkatan laut AS Edmond Pope diadili dan dihukum di Rusia karena mengambil informasi rahasia tentang senjata tersebut.
Saat ini Shkval masih merupakan senjata Rusia yang bersifat rahasia dan belum ada desain yang lebih unggul torpedo ini.
Sumber : RTBH
Aljazair Menandatangani Kontrak untuk tambahan Dua Kapal Selam Kilo
IMD - Aljazair telah menandatangani kontrak untuk pembelian dua kapal selam diesel-elektrik kelas kilo Project 636 Varshavyanka ('Improved Kilo') yang akan dibangun oleh Admiralty Shipyards di St Petersburg, Rusia.
"Tanggal dimulainya pembangunan dua kapal selam untuk pelanggan asing (Aljazair) telah ditentukan, kontrak sedang berlangsung," kata kantor berita Rusia ITAR-TASS mengutip direktur jenderal Admiralty Shipyards Alexandre Bouzakov pada tanggal 26 Juni.
Bouzakov tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi ITAR-TASS mengutip sumber industri pertahanan Rusia yang membeberkan bahwa kapal selam pertama akan diserahkan pada tahun 2018.
Aljazair menandatangani kontrak di tahun 2006 untuk membeli dua kapal selam Project 636, yang diserahkan pada tahun 2010 dan kini kapal tersebut berpangkalan di Mers-el-Kebir di barat laut Aljazair bersama dengan dua kapal selam Kilo Project 877 yang diperoleh pada tahun 1980-an.
Sumber : jane's.com
Obama Ajukan Rp 6,056 Triliun ke Kongres untuk Kelompok Oposisi Suriah
WASHINGTON -- Presiden Barack Obama meminta Kongres Amerika Serikat untuk menyetujui dana 500 juta dolar AS (sekitar Rp 6,056 triliun) untuk melatih dan mempersenjatai kelompok oposisi bersenjata di Suriah. Dana tersebut akan membantu kelompok oposisi membela diri menghadapi serangan rezim, demikian isi pernyataan Gedung Putih.
Bantuan, tambah Obama, juga akan ditujukan untuk menghadapi kelompok garis keras di Irak dan Levant (ISIS). kemajuan Pergerakan ISIS di Irak membuat sejumlah anggota Kongres untuk menekan Presiden Obama.
Dana tersebut akan membantu dalam menstabilisasi daerah kekuasaan oposisi serta mengatasi ancaman teroris. Gedung Putih menambahkan kelompok oposisi yang menerima dana akan diseleksi lebih dulu untuk mengatasi kekhawatiran peralatan akan dikuasai pihak musuh.
Presiden Obama mendapat tekanan dari sejumlah anggota Kongres untuk meningkatkan bantuan di kawasan tersebut. Bulan lalu Obama telah mengisyaratkan peningkatan bantuan bagi oposisi Suriah dalam pidato di akademi militer West Point.
Sumber : Republika
di Provokasi AS, Korut menguji tembak 3 Rudal jarak Dekat
SEOUL -- Korea Utara meluncurkan tiga roket jarak dekat di lepas pantai timurnya, Kamis. Peluncuran tersebut berselang satu hari setelah Korut menentang perilisan film komedi Amerika tentang pembunuhan Kim Jong-un.
Roket ditembakkan dari dekat Wonsan di timur Pyongyang. Roket terbang sejauh 118 mil sebelum akhirnya jatuh di perairan antara Korut dan Jepang.
"Kami menganalisa data kami dan mencoba mencari tahu jenis proyektil dan mengapa Korut menembakkannya. Militer kami telah meningkatkan aktivitas pengawasan untuk mengantisipasi jika Korut menembakkan proyektil lagi," ujar seorang pejabat di Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan, dikutip dari New York Times, Kamis (26/6).
Korut kerap menembakkan misil atau roket jarak dekat di lepas pantai timur saat latihan militer atau saat ingin menaikkan ketegangan. Belum jelas apakah peluncuran roket itu terkait dengan perilisan film.
Korut menyatakan perang jika film tetap akan dirilis Oktober mendatang. Film 'The Interview' yang dibintangi Seth Rogen dan James Franco menampilkan plot tentang pembunuhan Presiden Korut Kim Jong Un.
Film komedi tersebut menceritakan kisah seorang pembawa acara talk show dan produser yang secara kebetulan dapat mewawancarai Kim. Setelah itu, Central Intelligence Agency (CIA) merekrut pasangan itu untuk membunuh Kim.
--------------------------------------------------------------------
Korut Uji tembak Rudal Baru?
Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) pada Jumat mengumumkan negara itu telah melakukan uji-coba penembakan "rudal taktis" yang baru dikembangkan. Rudal tersebut disebut memiliki kecepatan ultra.
Pemimpin DPRK (Korea Utara) Kim Jong Un memandu uji-coba penembakan tersebut di pos pemantauan pusat, kata kantor berita resmi Korut, KCNA.
Kantor berita itu memuji senjata baru tersebut sebagai "keberhasilan baru yang gemilang" dalam upaya memproduksi peralatan dan senjata dengan ketepatan tinggi, lebih ringan, otomatis dan cerdas.
Uji-coba penembakan juga membantu Angkatan Darat Rakyat Korea memperoleh "master key" untuk memproduksi rudal jarak dekat dan menengah klas dunia dan memaksimalkan kekuatan dan ketepatan serangan mereka, tambah KCNA.
Kim mengungkapkan rasa puasnya dengan hasil peluncuran rudal tersbeut. Ia juga menyampaikan kepercayaan bahwa negerinya akan memproduksi lagi senjata kendali taktis dengan ketepatan tingi yang mampu dioperasikan dalam perang modern.
Sumber : Republika
Kembali Mengasah kemampuan tempur Rudalnya, Korut Ancam AS
PYONGYANG, (IMD) - Pasukan militer Republik Demokratik Rakyat Korea (DRPK) atau Korea Utara dalam kondisi siaga, setelah mereka menguji tembak rudal di wilayah timur negaranya. Media Korut pun merespon uji tembak rudal itu sebagai ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.
Media Korut, Rodong Sinmun, hari Jumat (27/6/2014) merilis laporan bahwa Korut mengalami penderitaan akibat ulah AS. Di mana AS telah membawa banyak penderitaan dan bencana bagi bangsa Korea dengan memprovokasi Perang Korea yang terjadi di tahun 1950-1953, yang mereka sebut sebagai "Perang Pembebasan Tanah" di Korut.
“Tidak ada pembenaran bagi kejahatan imperialis Amerika yang telah dilakukan selama konflik bersenjata selama tiga tahun ini,” tulis media Korut itu.”Namun, AS nampaknya tidak mau belajar dari kekalahan mereka dalam konflik ini dan terus maju untuk memusuhi kebijakan DPRK, yang merupakan sisa musuh rakyat Korea,” lanjut laporan itu.
Pada tanggal 25 Juni 2014, pertemuan besar-besaran diadakan di seluruh wilayah Korut untuk mengenang awal Perang Korea. Perang itu berakhir dengan gencatan senjata pada tahun 1953. Sejak itu, Korut membenci AS dan sekutu-sekutunya karena dianggap sebagai provokator perang.
Dalam uji tembak rudal, pemimpin Korut, Kim Jong Un turut mengawasi langsung manuver rudal . Korean Central News Agency (KCNA) melaporkan bahwa pengawasan langsung oleh Jong-un itu untuk memastikan uji tembak dapat berjalan sukses.
Uji tembak rudal yang berlangsung Kamis kemarin terjadi pada saat AS dan Korea Selatan sedang berupaya lebih nekat untuk mengisolasi DRPK. ”Dan Melancarkan perang agresif,” tulis KCNA.
Sumber : Sindonews
AS-China Bersiap Latihan Perang Bersama
WASHINGTON - China secara mengejutkan menyatakan akan mengikuti latihan perang akbar yang digagas oleh Amerika Serikat (AS) di wilayah Hawai. Ini adalah kali pertama kedua negara itu melakukan latihan perang bersama.
Melansir Reuters, Jumat (27/6/2014), beberapa pengamat beranggapan, latihan perang ini tidak akan mengubah hubungan kedua negara. Beberapa pihak bahkan berasumsi China mengikuti latihan ini hanya semata-mata untuk memperkuat militer mereka.
"Ini (latihan perang) menguntungkan kedua negara dan membantu komunikasi. Ini situasi yang menguntungkan," ungkap Kepala Angkatan Laut AS, Laksamana Jonathan Greenert, mengomentari mengenai keterlibatan China dalam latihan perang itu.
Kementerian Pertahanan China, dalam sebuah pernyataan, mengungkapkan, partisipasi China dalam latihan perang itu menunjukkan kesediaan China untuk mempromosikan perkembangan yang sehat dari hubungan militer dengan AS.
22 negara akan mengikuti latihan perang selama lima minggu di wilayah Hawai. Sekitar 55 kapal, lebih dari 200 pesawat dan sekitar 25.000 personil militer akan berpartisipasi dalam latihan perang yang diberi nama Rim of the Pacific (RIMPAC).
Latihan ini diharapkan mampu membangun sebuah kepercayaan dan membantu mencegah kesalahpahaman antar negara di wilayah perairan internasional yang bisa meningkat menjadi krisis.
Sumber : Sindonews
Pesawat Bersenjata AS Mulai Mengitari Langit Irak
WASHINGTON - Pemerintahan Barack Obama telah menerbangkan sejumlah pesawat bersenjata baik berawak maupun nirawak (drone) di wilayah udara Irak, kemarin. Pentagon mengatakan, tindakan itu untuk melindungi keselamatan para pegawai Amerika Serikat (AS) yang bekerja di Irak.
”Apa yang akan saya katakan adalah bahwa kami terus menerbangkan, baik pesawat bersenjata berawak maupun pesawat tak berawak di wilayah udara Irak. Itu perintah pemerintah, terutama untuk pengawasan,” kata juru bicara Pentagon, Laksamana John Kirby, seperti dikutip Reuters, Sabtu (28/6/2014).
"Alasan bahwa beberapa pesawat bersenjata dikerahkan adalah untuk memberikan perlindungan kepada beberapa penasihat militer AS. Operasi pesawat itu juga di luar batas-batas keduataan AS di Baghadad,” lanjut Kirby.
Misi pesawat bersenjata AS itu akan berlangsung antara 30 hingga 35 hari, untuk membantu pemerintah Perdana Menteri Nuri al-Maliki dalam mengusir militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Sudah lebih dari dua tahun setelah pasukan AS menarik diri, Gedung Putih telah mengabaikan seruan permintaan agar pasukan tempur AS dikerahkan kembali ke Irak.
Pemerintahan Obama mengaku telah bekerja untuk mempercepat pengiriman senjata AS yang dipesan Irak.
Irak sebenarnya telah memesan 800 rudal, sejumlah helikopter, tank dan kendaraan perang lainnya. Kirby menyebut, pesanan Irak itu akan tiba dalam beberapa pekan mendatang.
Namun, hal itu dianggap lamban oleh Irak. Negara itu, akhirnya berharap kepada Rusia untuk mengirimkan pesawat jet tempur yang akan digunakan untuk menumpas ISIS.
Sumber : Sindonews
Langganan:
Postingan (Atom)













