Selasa, 29 November 2016

Masih Jadi Yang Terbaik, Rusia Sudah Siapkan Pengganti Buk M3


buk-m3

Meski masih dianggap sebagai system pertahanan udara jarak  terbaik, Almaz-Antey telah mulai bekerja untuk membangun pengganti Buk M3.
Sebelumnya, Almaz-Antey telah mentransfer  satu set sistem rudal pertahanan udara jarak menengah Buk-M3 baru ke Kementerian Pertahanan Rusia.
CEO Almaz-Antey  Yan Novikov mengatakan dalam waktu singkat setelah rilis dari Buk M3 para ahli di perusahaanya telah  berhasil menciptakan produk kunci yang akan menjadikan jangkauan meningkat satu setengah kali lipat dari generasi sebelumnya.
“Kami tidak berhenti di sini dan sudah mulai pekerjaan pembangunan untuk menciptakan generasi berikutnya dari rudal anti pesawat jarak menengah,” kata Novikov seperti dikutip oleh laman perusahaa Senin 28 November 2016.
Buk M3 merupakan system terbaru dari rudal pertahanan udara Rusia. Sistem ini menggunakan rudal baru dan komponen elektronik yang canggih yang telah meningkatkan kemampuan secara siginifikan dibandingkan Buk tua.
Bahkan system ini disebut-sebut melebihi kemampuan system pertahanan udara jarak jauh  S-300P tua. Sistem pertahanan udara ini dapat menyerang  pesawat taktis dan strategis, helikopter, rudal balistik jarak pendek, rudal jelajah, rudal  yang diluncurkan dari udara, rudal anti-radiasi, bom berpemandu dan kendaraan aerodinamis lainnya.
Sistem ini  juga dapat beroperasi di bawah serangan elektronik berat dari lawan.  Buk M3 menggunakan rudal baru 9M317M dan dalam hal desain,  sama sekali berbeda dengan  rudal Buk sebelumnya. Sistem ini juga lebih  kompak daripada rudal yang digunakan pada sistem Buk M1 dan M2 Buk. Rudal baru memiliki jangkauan hingga 70 km dengan ketinggian maksimum adalah 35 km.

Lantamal VI TNI AL Buka Pendaftaran Calon Tamtama


lantamal-vi
TNI Angkatan Laut melalui Pangkalan TNI AL (Lantamal) VI membuka pendaftaran penerimaan Calon Tamtama Prajurit Karier TNI AL gelombang II TA 2017 yang ditujukan bagi para pemuda Warga Negara Indonesia (WNI) dan berdomisili dalam wilayah kerja Lantamal VI.
“TNI AL membuka kesempatan bagi para WNI yang memenuhi semua persyaratan untuk bergabung menjadi abdi negara,” ujar Kepala Dinas Penerangan Lantamal VI Kapten Laut (KH) Suparman Sulo di Makassar, Senin 28 November 2016 sebagaimana dilaporkan Antara.
Pendaftaran penerimaan Catam TNI-AL ini dimulai pada 21 November 2016 hingga 5 Januari 2017 dan bagi pemuda yang berminat dapat langsung mendaftarkan diri di Lantamal VI Jalan Yos Sudarso Nomor 308 Makassar.
Selain itu, para pemuda juga bisa mendaftarkan diri secara online (dalam jaringan/daring) dengan mengakses alamat website www.rekrutmen-tni.mil.id dengan mengisi formulir pendaftaran.
Beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi yakni warga berijazah minimal sekolah menengah pertama (SMP) dan belum menikah serta memiliki tinggi badan 163 centimeter (cm) dengan berat badan seimbang.
Kemudian persyaratan lainnya, berusia serendah rendahnya 17 tahun 9 bulan dan setinggi-tinggi 22 tahun pada tanggal 20 Maret 2017. Melengkapi Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dari Polres setempat serta bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI.
“Untuk lebih lanjutnya datang saja ke Mako Lantamal VI atau mengakses website yang telah ditentukan,” sebutnya.
Suparman mengimbau kepada masyarakat yang berminat untuk mengabdikan dirinya kepada bangsa dan Negara Indonesia agar melalui pendaftaran Catam tersebut dan tidak menempuh jalur/cara yang tidak diperbolehkan.
Seperti menyuap pejabat yang berwenang, atau jalan lain yang sifatnya menimbulkan KKN, apabila diketahui oleh panitia/pejabat yang berwenang, maka kedua belah pihak akan menerima risiko dan sanksi hukum yang berlaku.
Sedangkan terhadap calon tersebut akan dicoret dan dinyatakan tidak lulus masuk Secatam (Sekolah Calon Tamtama).

Media Jerman: T-14 Tak Bisa Dihentikan, NATO Butuh 20 Tahun Untuk Mengejar


Sputnik
Majalah Jerman Stern mengakui Rusia telah melakukan terobosan dalam penemuan di bidang militer yang membuat barat terkejut. Salah satu yang paling utama adalah tank tempur utama T-14 Armata.

Majalah ini menyerukan ahli militer NATO harus memberi perhatian khusus dan cepat untuk bekerja dalam membangun lawan bagi Armata.
Mengutip   laporan laporan internal  Kementerian pertahanan Inggris telah menyajikan kekhawatiran jelas terhadap perkembangan militer Rusia. “Setiap kalimat [laporan} penuh dengan terror,” tulis Stern.
Stern mencatat bahwa Armata adalah tank yang tidak dapat dihentikan dan Barat  akan membutuhkan setidaknya 20 tahun untuk mengejar ketinggalan dengan Moskow.
“ Banyak orang akan bertanya mengapa Barat bisa jauh di belakang dan bagaimana ini bisa terjadi,”  menurut Sterns jawabannya sederhana “Negara NATO   lupa tentang keberadaan pertempuran tank klasik sementara insinyur Rusia telah terhindar dari  perangkap ini. Bukan berarti  hiperbola, Armata merupakan sebagian langkah perubahan yang revolusioner dalam desain tank dalam setengah abad terakhir,” tulis majalah itu. “Tidak mengherankan, tank ini telah menimbulkan sensasi.”

Sebelumnya, ahli militer Ivan Konovalov mengatakan kepada Sputnik bahwa pembangunan state-of-the-art T-14 Armata  telah mengejutkan barat. Menurut dia, Barat tidak pernah berpikir bahwa kompleks industri militer Rusia akan mampu menciptakan tank T-14 Armata yang sangat canggih.
Kementerian Pertahanan Rusia meluncurkan tank  generasi baru ini pada parade kemerdekaan  9 Mei  2015. Tank Armata  dilengkapi persenjataan canggih, turret remote control dan armor yang sangat tangguh.

APC Disita Hong Kong, China: Singapura Hipokrit

apc-singapura
China melayangkan protes kepada Singapura setelah sembilan kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC) Singapura disita bea cukai Hong Kong saat kembali dari Taiwan. Surat kabar pemerintah China menyebut Singapura telah bersikap hipokrit alias munafik.
Sembilan unit kendaraan pengangkut personel  disita di Hong Kong pada minggu lalu, memicu sebuah teguran kepada Singapura dari Kementerian Luar Negeri China karena Negara itu  mempertahankan ikatan militer dengan Taiwan, yang dianggap sebagai sebuah provinsi pembangkang oleh China.
“China telah membuat pernyataan atas hal ini kepada pihak Singapura,” kata juru bicara Kemenlu Geng Shuang  dalam sebuah pengarahan pers  Senin 28 November 2016.
China juga telah  menuntut Singapura mematuhi hukum-hukum yang berlaku di Hong Kong dan bekerja sama dengan pemerintah Hong kong untuk menangani pekerjaan lanjutan terkait.
Hong Kong, merupakan sebuah bekas jajahan Inggris sebelum akhirnya dikembalikan kepada China pada 1997 lalu.
Geng mengatakan China selalu menentang negara-negara yang memiliki hubungan dengan China dan juga memiliki  segala bentuk pertukaran politik dengan wilayah Taiwan, termasuk pertukaran dan kerjasama militer.
China telah mengklaim kedaulatan atas Taiwan sejak 1949, ketika pasukan Komunis Mao Zedong memenangi perang  China dan pihak Nasionalis Chiang Kai Shek melarikan diri ke pulau itu.
Beijing telah berjanji untuk membawa Taiwan kembali ke bawah kekuasaannya, menggunakan jalan kekerasan jika diperlukan. China mengatakan bahwa Taiwan merupakan bagian dari “Satu China,” yang dikuasai oleh Beijing.
Global Times, yang merupakan tabloid milik negara, memperingatkan bahwa “kemunafikan” Singapura atas hubungan militernya dengan Taiwan dapat merusak hubungannya dengan China.
“Tidak ada beralasan bagi Singapura untuk melanjutkan segala bentuk pertukaran militer dengan Taiwan,” ujar sebuah artikel opini di media itu, yang ditulis oleh seorang komentator yang menggunakan nama Ai Jun, yang bermakna “cintai tentara”.
Singapura dan Taiwan memiliki sebuah hubungan militer yang telah lama berjalan sejak 1970an dan melibatkan Taiwan sebagai lokasi pelatihan infantri Singapura.
Beijing dengan berat hati mentolerir kesepakatan itu sejak China dan Singapura membentuk kembali hubungan diplomasi pada 1990an.
Media itu menyebutkan insiden   kendaraan itu “menambah kecurigaan” bahwa Singapura berusaha melawan prinsip Satu China.

Senin, 28 November 2016

Kurganets-25, Revolusi Armor Rusia Untuk Menandingi M2 Bradley

Kurganets-25 armored personnel carrier

Fitur yang paling krusial dari Kurganets adalah penggabungan dari sistem Afganit Active Protection yang digunakan pada tank  T-14. Afganit bekerja pada radar AESA yang dapat mendeteksi shell dan rudal masuk, kemudian merespon dengan sistem optoelectronic “soft-kill ” berupa granat asap multispektral yang membingungkan rudal musuh serta sistem “hard-kill” dengan roket untuk mencegat misil yang datang.
Israel telah lebih dulu sukses dengan sistem perlindungan aktif 'Trophy' pada kendaraan lapis bajanya di tahun 2014. Sedangkan sistem Afganit belum diuji dalam pertempuran, tetapi jika se-efektif Trophy, kemungkinan sistem ini akan menjadi salah satu metode terbaik untuk melindungi sebuah IFV tanpa meningkatkan beban secara drastis.

Kurganets kembali dengan gagah termasuk radar array, sistem GPS, laser range finder, imager termal, sistem kontrol tembak, kamera eksterior untuk penglihatan situasional dan kontrol senjata jaringan.
Kurganets dapat dipacu hingga 80 kilometer per jam, lebih cepat 30 km dari BMP-2 dan Bradley yang hanya bisa bergerak maksimal 50 kilometer per jam. Kurganets juga dapat mempertahankan kemampuan BMP-nya untuk menerjang air dengan kecepatan 10 kilometer per jam.
RUSKA KURN
Namun, kapasitas angkut pasukan pada AFV ini diturunkan menjadi enam sampai tujuh pasukan. Hal ini mengejutkan, karena terbatasnya ukuran skuad yang dipasangkan pada desain IFV sebelumnya yang sering dikritik berbagai pihak dan merupakan titik kunci perbaikan potensial.
Sebuah tim khusus dengan enam pasukan didalamnya dapat memiliki waktu yang sulit melakukan “tugas infanteri” seperti tugas pengamanan dan penyerangan sebuah bangunan. akan teteapi, interior Kurganets dilaporkan lebih nyaman bagi pasukan. Jika  benar, ini akan menandai sebuah revolusi sejati dalam desain AFV Rusia. dengan pintu keluar  dibelakang menggunakan sistem built in door, perbaikan besar dari BMP yang keluar dari atas.
Varian APC Kurganets dipersenjatai hanya dipersenjatai dengan senapan mesin 12,7 mm dan dapat membawa sampai delapan pasukan, tetapi tidak memiliki sistem perlindungan yang aktif dari IFV. Kurganets juga dirancang untuk menggantikan lapis baja MT-LB.

The Russian Army will take on strength a sophisticated armored recovery vehicle (ARV) derived from the Kurganets platform in several years, according to the Izvestia daily.
Versi Kendaraan Recovery
Varian yang direncanakan pada Kurganets termasuk ambulans lapis baja, pembawa mortar Vasilek 82 milimeter, kendaraan anti-tank, kendaraan recovery lapis baja, kendaraan pengintai, komando, dan kendaraan rekayasa lapis baja. Termasuk untuk varian meriam swa-gerak 120-122 mm serta kendaraan lapis baja antipesawat swa-gerak 57 milimeter.

Penyelesaian BRP Davao Del Sur Angkatan Laut Filipina Capai 91 Persen

Kapal jenis strategic sealift vessel (SSV) BRP Davao Del Sur (LD-602).
Kapal jenis strategic sealift vessel (SSV) BRP Davao Del Sur (LD-602).
Juru bicara Angkatan Laut Filipina, Kapten Lued Lincuna, mengatakan bahwa kapal jenis strategic sealift vessel (SSV) kedua BRP Davao Del Sur (LD-602) telah mencapai 91 persen dan segera dikirimkan sesuai jadwal pada bulan Mei 2017.
Saat ini, PT PAL Indonesia sedang memasang sistem navigasi, dek dan peralatan teknik di SSV kedua Angkatan Laut Filipina tersebut.
“Instalasi navigasi, dek, dan peralatan teknik sedang berlangsung. Saya tidak tahu persentase yang tepat terkait penyelesaian, namun kapal itu pasti akan (berada di Filipina) pada bulan Mei 2017,” ujar Kapten Lued kepada Philippine News Agency.
BRP Davao Del Sur (LD-602) telah diluncurkan pada bulan September lalu. Kapal itu merupakan saudara dari kapal BRP Tarlac (LD-601) yang saat ini telah ditugaskan menjadi kapal perang Filipina.
Sama seperti BRP Tarlac, SSV terbaru Angkatan Laut Filipina ini juga akan berfungsi sebagai kapal komando-dan-kontrol, terutama dalam memberikan bantuan kemanusiaan dan bencana, serta akan berfungsi sebagai sealift militer dan kapal pengangkut.

Rheinmetall Ciptakan Senjata Penghancur Tank Armata

Challenger 2 Tank
Rheinmetall Defence memamerkan senjata baru yang dikembangkan terutama untuk menghancurkan tank T-14 Armata dan T-90. Defense Update melaporkan, senjata 130 mm itu, siap dipasang ke tank baru yang sedang dikembangkan Jerman dan Prancis sebagai pengganti tank tempur Leopard 2 dan Leclerc.
Demonstrasi teknis senjata 130mm ini pertama kali dilakukan Mei 2016 lalu. Situs HIS Jane’s 360 menyebutkan, kemampuan senjata ini mulai diuji di lapangan tembak Rheinmetall usai dipamerkan pada Pameran Pertahanan dan Keamanan Internasional Eurosatory 2016.

Rheinmetall 130mm Gun (Defense-update.com)

Rheinmetall 130mm Gun (Foto:Noam eshel / Defense-UpdateDefense-update.com)
Saat ini, Rheinmetall Defence sedang menciptakan proyektil khusus penembus perisai untuk senjata ini. Menurut keterangan perusahaan, senjata ini dilengkapi dengan sistem peluncur yang disempurnakan dan inti wolfram atau tungsten yang diperpanjang.
Meski demikiam, para pakar Rusia berpendapat kemampuan senjata tersebut mustahil untuk dievaluasi sebelum uji coba proyektil dilaksanakan.

Rheinmetall 130mm Gun (Defense-update.com)

Rheinmetall 130mm Gun (Foto:Noam eshel / Defense-UpdateDefense-update.com)
Barat Ingin Saingi Armata
Jerman mulai mempertimbangkan memodernisasi tank Leopard 2 setelah Rusia memamerkan platform tempur “Armata” dan tank T-14 yang dibuat berdasarkan platform Armata. Kendaraan tempur terbaru milik Rusia ini mampu bertahan dan memiliki potensi tempur lebih unggul daripada tank buatan negara-negara lain.
Kini, berlatar belakang persiapan pemasokkan T-14 ke dalam barisan tentara Rusia, Prancis dan Jerman menggelar pembicaraan bilateral yang tidak hanya membahas mengenai pengembangan senjata artileri generasi terbaru, tapi juga rencana penggantian tank kelas berat jenis “Leopard” dan “Leclerc”.
Sebelumnya, sebagaimana yang dilaporkan majalah urusan luar negeri AS National Interest, para ahli militer menunjukkan tank “Leopard 2” milik Jerman, yang dianggap sebagai salah satu tank terbaik di dunia, nyatanya tidak memiliki proyektil yang mampu menembus lapis baja tank T-80, T-90 dan T-14 “Armata” buatan Rusia.

Rheinmetall 130mm Gun (Foto:Noam eshel / Defense-UpdateDefense-update.com)

Rheinmetall 130mm Gun (Foto:Noam eshel / Defense-UpdateDefense-update.com)
Namun, Jerman kini sedang bekerja secara aktif untuk mengatasi masalah tersebut, baik dengan mengadaptasikan proyektil-proyektil buatan Amerika pada tank-tank mereka maupun dengan mengembangkan amunisi uranium terdeplesi (uranium yang mempunyai kadar isotop U235 yang lebih rendah dari uranium alam -red.) mereka sendiri, tulis National Interest.
Belum Tentu Efektif
Meskipun Rheinmetall Defence menghadirkan senjata terbarunya sebagai perangkat militer untuk melawan platform “Armata” milik Rusia, hingga kini belum diketahui apakah senjata ini benar-benar dapat efektif melawan teknologi terbaru buatan Rusia.
“Senjata 130 mm terbaru milik Jerman dalam proses pembangunan dan belum diketahui apakah senjata tersebut memang benar-benar mampu menembus lapis baja tank Rusia,” ujar Pemimpin Redaksi majalah National Defense Igor Korotchenko dalam wawancaranya dengan RBTH.
Korotchenko menekankan, saat ini proyektil senjata yang dimaksud belum diciptakan. Pemberitaan mengenai keunggulannya terhadap tank Rusia tak lebih sebagai upaya produsen untuk mengiklankan produknya.
Menurut salah satu narasumber RBTH, para ahli di kompleks industri militer belum memberikan keputusan akhir mengenai senjata baru buatan Jerman tersebut. “Saat ini, kami telah mengirimkan perwakilan kami untuk melakukan tinjauan,” ujar narasumber.
Pada April 2016, Kementerian Pertahanan Rusia telah menandatangani kontrak pembelian seratus unit tank dengan platform “Armata”. Menurut Direktur Umum perusahaan Ulravagonzavod Vyacheslav Khalitov, angkatan bersenjata Rusia akan menerima seri pertama, sebanyak 100 unit tank T-14 pada 2017 – 2018 mendatang.