Senin, 21 November 2016

Kim Jong-un Sidak Situs Roket, Korut di Ambang Perang?


PYONGYANG - Diktator muda Korea Utara (Korut), Kim Jong-un, dikelilingi para tentara wanita saat inspeksi mendadak (sidak) ke situs peluncuran roket (MLRS) di sebuah lokasi yang dirahasiakan. Sementara itu, pemerintah Korut menyatakan situasi sudah di ambang perang dengan Korea Selatan.

Kedatangan Kim Jong-un yang dikelilingi para tentara wanita Korut disiarkan stasiun televisi KRT yang dikelola pemerintah Pyongyang.

”Dia mengorganisir ini tiba-tiba dan dibimbing di tempat untuk mengkonfirmasi kemampuan tempur dari penembak perempuan,” tulis Korea Central News Agency (KCNA).

Kim Jong-un menekankan pentingnya latihan perang untuk mempersiapkan perlawanan terhadap musuh. ”Untuk tujuan ini, pelatihan unit artileri harus dilakukan di bawah kondisi simulasi pertempuran yang sebenarnya,” lanjut KCNA mengutip pernyataan Kim Jong-un.

Dalam sidak, Kim Jong-un didampingi para komandan militer Korut, termasuk Direktur Biro Politik Militer, Wakil Marsekal Hwang Pyong-so dan Kepala Staf Militer, Ri Myony-su.

Korut juga telah mengeluarkan peringatan bahwa situasi sudah di ambang perang dengan Korea Selatan. Utusan Luar Negeri Korut, Pak Yun Sik, mengatakan, “Situasi di semenanjung Korea dekat ke ambang perang karena latihan militer tak berujung oleh pasukan Amerika dan Korea Selatan yang menargetkan kami.”

”Sekarang, Inggris telah memutuskan untuk mengirim jet tempur Typhoon untuk mengambil bagian dalam latihan militer AS-Korea Selatan, di Korea Selatan, dari tanggal 4 sampai 10 November.

”Ini tindakan bermusuhan, secara terbuka bergabung dengan pasukan AS dan Korea Selatan bergerak untuk perang melawan kami,” ujarnya.

”Inggris mengklaim bahwa latihan militer ini tidak menargetkan kami, tetapi AS dan Korea Selatan secara terbuka mengatakan bahwa ini latihan militer ditujukan untuk meluncurkan serangan terhadap fasilitas dan struktur komando militer kami,” kata Yun Sik.

Sumber : Sindonews

Sekilas 6 Jenis Pesawat Jet Tempur TNI AU

Presiden RI Joko Widodo telah berkomitmen untuk meningkatkan keamanan Indonesia. Program modernisasi alutsista yang dilakukan mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi bukti meningkatnya kemampuan tempur prajurit, terlebih isu Laut China Selatan terus diramaikan di dunia internasional. Salah satu elemen penting dalam menjaga kedaulatan NKRI ialah TNI-AU. Saat ini kekuatan TNI-AU menjadi yang diperhitungkan di Asia Tenggara. Selain didukung kemampuan seluruh personel yang dimiliki, berbagai alutsista yang dimiliki TNI-AU dinilai juga cukup mumpuni, seperti salah satunya pesawat tempur. Saat ini TNI-AU telah memiliki 5 jenis pesawat jet tempur. Jet-jet tempur ini memiliki fungsi dan kemampuan masing-masing, apa saja itu? 

1. Hawk 209 



Jet ini merupakan pesawat buatan Hawker-Siddeley. Hawk Mk 209 yang dimiliki TNI-AU ini memiliki fungsi sebagai pesawat jet latih untuk pesawat tempur generasi 4. Adapun jet tempur generasi 4 diantaranya seperti F-15, F-16 dan lain sebagainya. Pertama kali TNI-AU membeli pesawat ini pada tahun 1997.‎ Hawk Mk 209 merupakan varian single seater dari keluarga Hawk. Pesawat jet ini dikhususkan untuk mengemban misi air superiority dan ground attack. Malaysia juga memiliki sejumlah Hawk Mk 108/208 yang merupakan varian Hawk pertama yang bisa melakukan pengisian bahan bakar di udara. 


 2. T-50 Golden Eagle 



Memiliki fungsi hampir sama dengan Hawk 209, T-50 Golden Eagle adalah pesawat latih (trainer) supersonik buatan Amerika-Korea. Dikembangkan oleh Korean Aerospace Industries (KAI), dengan bantuan Lockheed Martin. Program ini juga melahirkan A-50, atau T-50 LIFT, sebagai varian serang ringan. Program T/A-50 dimaksudkan sebagai pengganti dari berbagai pesawat latih dan serang ringan. Program ini pada awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih secara mandiri yang mampu mencapai kecepatan supersonik untuk melatih dan mempersiapkan pilot bagi pesawat KF-16 (F-16 versi Korea). T-50 membuat Korea Selatan menjadi negara ke-12 yang mampu memproduksi sebuah pesawat tempur jet yang utuh. Beberapa produk korea lainnya adalah KT-1 produk Samsung Aerospace (sekarang bagian dari KAI), dan produk lisensi KF-16. Sebagian besar sistem utama dan teknologinya disediakan oleh Lockheed Martin, secara umum bisa disebut T/A-50 mempunyai konfigurasi yang mirip dengan KF-16.

3. F-16 Fighting Falcon 



F-16 Fighting Falcon adalah jet tempur multi-peran supersonik yang dikembangkan oleh General Dynamics (lalu di akuisisi oleh Lockheed Martin), di Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya dirancang sebagai pesawat tempur ringan, dan akhirnya ber-evolusi menjadi pesawat tempur multi-peran yang sangat populer. Kemampuan F-16 untuk bisa dipakai untuk segala macam misi inilah yang membuatnya sangat sukses di pasar ekspor, dan dipakai oleh 24 negara selain Amerika Serikat. Pesawat ini sangat popular di mata international dan telah digunakan oleh 25 angkatan udara. F-16 merupakan proyek pesawat tempur Barat yang paling besar dan signifikan, dengan sekitar 4000 F-16 sudah di produksi sejak 1976. Pesawat ini sudah tidak diproduksi untuk Angkatan Udara Amerika Serikat, tapi masih diproduksi untuk ekspor. 


4. Sukhoi Su-27 (Flanker)



Sukhoi Su-27 merupakan pesawat tempur yang awalnya diproduksi oleh Uni Soviet, dan dirancang oleh Biro Desain Sukhoi. Pesawat ini direncanakan untuk menjadi saingan utama generasi baru pesawat tempur Amerika Serikat yaitu F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet. Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. Pesawat ini sering disebut sebagai hasil persaingan antara Sukhoi dengan Mikoyan-Gurevich, karena Su-27 dan MiG-29 berbentuk mirip. Ini adalah keliru, karena Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh, sedangkan MiG-29 dirancang untuk mengisi peran pesawat tempur pendukung jarak dekat. 

 5. Sukhoi-Su-30 (Flanker-C)



Sukhoi Su-30 adalah pesawat tempur yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia pada tahun 1996. Pesawat ini adalah pesawat tempur multifungsi, yang efektif dipakai sebagai pesawat serang darat. Pesawat ini bisa dibandingkan dengan F/A-18E/F Super Hornet dan F-15E Strike Eagle Amerika Serikat. Pesawat ini adalah pengembangan dari Su-27UB, dan memiliki beberapa varian. Seri Su-30K dan Su-30MK telah sukses secara komersial. Varian-varian ini diproduksi oleh KnAAPO dan Irkut, yang merupakan anak perusahaan dari grup Sukhoi. KnAAPO memproduksi Su-30MKK dan Su-30MK2, yang dirancang dan dijual kepada Tiongkok. Su-30 paling mutakhir adalah seri Su-30MK buatan Irkut.

Sumber : Liputan 6

Panglima TNI Akui Pulau Natuna Sedang Terancam


Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyatakan sinyal konflik berkepanjangan antar-negara di kawasan Laut Tiongkok Selatan (LTS) belum juga mereda. Jenderal Gatot mengakui konflik tersebut mengancam keutuhan dan kedaulatan Republik Indonesia. Dia menjelaskan ancaman yang paling tampak yakni, rentan lepasnya Pulau Natuna dari NKRI. Hal tersebut disebabkan karena angkatan bersenjata Tiongkok berencana kembali membangun pulau buatan dekat dengan wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia.


“Jika pulau itu ada dan Tiongkok menuntut negara lain mengakui itu adalah pulaunya, maka wilayah laut mereka akan sampai ke Natuna,” ujar Jenderal Gatot Nurmantyo saat memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Depok, Jawa Barat (16/11/2015). Panglima TNI menjelaskan Tiongkok sebelumnya juga telah membangun bangunan permanen di Scarborough Shoal, yakni pulau karang yang berdekatan dengan wilayah Filipina, serta pembangunan infrastruktur di Fiery Cross Reef di Kepulauan Spratly.

“Tiongkok juga telah menyatakan kedaulatan yang tidak terbantahkan atas pulau-pulau di LTS dan perairan yang berdekatan,” tegasnya. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan kuliah umum di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Depok, (16/11/2016). Ancaman tersebut bukan lagi teori. Ancaman itu sudah ada. Seperti misalnya ditemukannya sejumlah kapal ikan asal Tiongkok yang dikawal oleh kapal penjaga pantai Tiongkok di perairan ZEE Indonesia dekat Pulau Natuna. Seperti kapal ikan Gui Bei Yu 27088 yang ditangkap perairan Natuna pada Mei lalu.

“Jangan khawatirkan kapal ikannya saja, tapi coba perhatikan kapal pengawalnya. Dengan adanya kapal pengawal, berarti Tiongkok telah mengklaim perairan itu sebagai wilayahnya,” ungkapnya. Selain itu, adanya klaim Tiongkok terhadap sebagian wilayahnya di negara Asia Tenggara berdasarkan sejarah masa lalunya, juga ikut menjadi kerisauan tersendiri bagi Indonesia dan negara-negara lain seperti Vietnam dan Myanmar. “Tiongkok bisa saja mengirim satu juta warganya untuk mengklaim tanah di Vietnam karena Tiongkok dulu punya wilayah di sana,” ujarnya. Jenderal Gatot Nurmantyo menambahkan ancaman tersebut tidak hanya diantisipasi dengan cara-cara militer, namun juga dengan mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kembali semangat persatuan.

Sumber : JPNN

Sabtu, 19 November 2016

Brigade pasukan artileri Rusia akan segera menerima howitzer 2S35 Koalitsiya-SV


Brigade artileri angkatan bersenjata Rusia akan segera menerima generasi terbaru howitzer swa-gerak 2S35 Koalitsiya-SV buatan negaranya dalam waktu dekat, kata Mayor Jenderal Mikhail Matveevsky, kepala pasukan rudal dan artileri Rusia. Meriam Swa-gerak Koalitsiya-SV akan menjadi cetak biru proyek pengembangan sistem artileri robotik di masa depan, tambah kepala rudal dan artileri pasukan Angkatan Darat Mayor Jenderal Mikhail Matveevsky.

Prototipe 2S35 diresmikan pada bulan Mei 2015 tahun lalu, berdasarkan  body tank T-72/90, meskipun platform Armata juga akan dipertimbangkan . howitzer swa-gerak 2S35 Koalitsiya-SV dirancang untuk menggantikan artileri howitzer 2S19 MSTA-S dalam dinas angkatan bersenjata yang sudah mengabdi sejak bertahun-tahun lamanya

Artileri Howitzer swa-gerak baru itu dipersenjatai dengan meriam 152mm 2A88, atau meriam baru yang sedang dikembangkan oleh Rusia

Howitzer 2S35 Koalitsiya-SV dapat menembakan berbagai amunisi, termasuk amunisi standar, proyektil roket HE-frag, sistem perlindungan cluster dengan peledak anti-tank, termasuk sistem jammer yang dapat membawa proyektil.

Jarak tembak maksimum meriam adalah 30 km dengan amunisi standar,  sedangkan jika dibantu proyektil roket, meriam itu akan memiliki jangkauan lebih jauh 40 km . Selain itu, Howitzer atau meriam tersebut juga mampu menembakkan generasi baru dari proyek pengembangan 9K25, yaitu amunisi kaliber 152 mm Krasnopol  yang dipandu laser dengan jangkauan maksimum 20 km.

Sumber : Army Recognition
.

Rusia Lengkapi Pesawat Tahun '70-an dengan Sistem Elektronik Tercanggih


Pasukan Kedirgantaraan Rusia (VKS RF) telah menerima tiga pesawat Ilyushin Il-22PP “Porubschik” pertamanya yang dilengkapi peralatan pengacau termodern yang mampu menonaktifkan sistem elektronik pesawat musuh.

Perangkat untuk melakukan serangan elektronik sebenarnya telah dipasang di pesawat pada pertengahan 1970-an. Meski demikian, seperti yang disampaikan pihak pengembang, mesin yang dimodernisasi ini kini bisa menghadapi sistem elektronik paling modern, yang dipasang pada pesawat canggih asing.

“Perangkat baru bisa membutakan Sistem Kendali dan Peringatan Dini Pasukan Udara (Airborne Early Warning and Control System/AWACS) pesawat,” kata seorang narasumber dari kompleks industri-militer pada RBTH. “Selain itu, Il-22PP ‘Porubshchik’ secara efektif menangkis sistem pertahanan udara Patriot (sistem misil darat-ke-udara yang digunakan Angkatan Darat AS dan beberapa negara sekutu -red.).”

Menurut para perancang, Il-22PP “Porubshchik” dapat secara selektif menonaktifkan perangkat musuh menggunakan gangguan yang kuat, serta menghalangi serangan elektronik serupa dari musuh.

“Sebelum sistem pengganggu elektronik mulai beroperasi, pesawat memindai sinyal radio di area aktivitasnya,” terang narasumber RBTH. “Setelah mendeteksi frekuensi yang digunakan pesawat musuh, operator pesawat menyalakan sistem gangguan dalam jangkauan yang diinginkan.”

Pada November ini, VKS RF akan menerima dua pesawat tambahan yang sama.
Mengapa Memasang Perangkat Canggih pada Pesawat Tua?

Menurut Mikhail Khodorenok, seorang pensiunan kolonel sekaligus analis militer media Rusia Gazeta.ru, Il-22 adalah sebuah kebutuhan bagi militer.

“Beberapa opsi lain sempat dipertimbangkan, seperti pesawat An-140 dan An-158 dengan mesin jet turbo serta Tu-214,” terang sang pakar militer pada RBTH. “Namun, saat penyusunan ‘pengadaan pertahanan’ pada 2009, tak satu pun dari model tersebut yang sepenuhnya siap dilengkapi dengan sistem senjata elektronik terbaru.”

“Tentu ini bukan solusi ideal,” tambahnya seraya menjelaskan mengapa akhirnya senjata baru dipasang pada ‘kuda tua yang tepercaya’. “Namun, karena ketiadaaan opsi yang lebih baik, sebuah pilihan harus dibuat — apakah tetap bertahan dengan pesawat tanpa senjata elektronik, atau memasang perangkat tersebut pada sayap yang sudah teruji coba.”

Khodorenok menegaskan, keputusan Kementerian Pertahanan Rusia bersifat sementara, dan Il-22PP “Porubshchik” akan digantikan oleh model pesawat terkini dalam waktu dekat.

Sistem Senjata Elektronik dalam Senjata Modern

Sistem senjata elektronik digunakan tak hanya untuk ‘menyerang’, tapi juga membuat pasukan tak terlihat oleh misil dalam pertempuran. Sebagai contoh, helikopter tempur Mi-24 dan Ka-52 di Suriah dilengkapi dengan sistem senjata radio-elektronik Vitebsk dan President.

“Sistem senjata elektronik yang terintegrasi dengan perangkat keras juga bisa mencegat misil dengan pelacak optikal dan inframerah, bahkan mendorong mereka keluar dari jalur penerbangan asli,” terang pengamat militer dari surat kabar Izvestiya Dmitry Safonov pada RBTH. Kemampuan sistem senjata elektronik yang terintegrasi pada helikopter bisa digambarkan dengan sistem perlindungan radar serupa terhadap misil pendeteksi panas. Insiden ini terjadi di pinggiran Aleppo saat para pejuang dari kelompok Asala wa-al-Tanmiya, sebuah unit oposisi moderat yang didukung AS, menembak helikopter angkut militer Mi-17 milik Suriah dengan sistem misil antipesawat Igla-1.

Menurut Safonov, sistem senjata elektronik ‘darat’ beroperasi dalam prinsip serupa.

Secara khusus, markas Hmeymim di Suriah saat ini dikelilingi oleh sistem Krasukha-4 — perangkat ini memadamkan semua sistem elektronik darat musuh dalam radius 250 km. Menurut para pakar, militer Rusia akan mempersenjatai ulang armada senjata elektronik mereka dengan 70 persen teknologi terbaru pada 2020.

Serah Terima KRI RE Martadina 331 Dipersiapkan, Proses Negosiasi Pengadaan Senjata Tengah Berlangsung



Menjelang serah terima PKR (Perusak Kawal Rudal) KRI Raden Eddy (RE) Martadinata 331 kepada TNI AL pada akhir Januari 2017, serangkaian proses tengah dikejar agar saat diserahterimakan kapal perang dalam kondisi benar-benar full armament. Nah, kabar terbaru menyebut Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) tengah dalam proses negosiasi dengan beberapa pemasok untuk pengadaan paket senjata dan peralatan tempur pendukung, tidak hanya untuk KRI RE Martadinata 331, tapi juga untuk kapal kedua KRI I Gusti Ngurah Rai 332.

Mengutip sumber dari Janes.com (17/11/2016), Sistem senjata yang tengah dalam proses pembicaraan dengan beberapa manufaktur adalah rudal hanud (pertahanan udara) VLS Mica dan rudal anti kapal MM40 Block 3 Exocet, kedua senjata ini merupakan produksi MBDA, Perancis. Sementara untuk kanon reaksi cepat tengah dilakukan negosiasi dengan pihak Rheinmetall Defence yang nantinya akan memasang Oerlikon Millenium 35 mm. DSNS telah mendapatkan mandat dari Kemhan RI untuk membantu proses negosiasi pada dua frigat Martadinata Class.



Sampai saat ini, di KRI RE Martadinata 331 baru terpasang kanon reaksi cepat Oto Melara 76/62 Super Rapin gun. Pada 11 Juli lalu, pihak Damen menyebut bahwa semua sistem telah diuji coba dan dinyatakan berhasil dengan baik di semua aspek. Serangkaian uji pada sesi sea trail mencakup pengujian sistem senjata (kanon Oto Melara 76 mm), sensor, radar, dan kemampuan sonar.

Diharapkan saat diserahterimakan ke pihak TNI AL, KRI RE Martadinata 331 sudah dilengkapi sistem persenjataan secara lengkap, termasuk peluncur torpedo Eurotorp B515. Integrasi beragam sistem senjata di kapal perang ini menggunakan combant management system (CMS) Tacticos dari Thales. Di KRI Martadinata 331 kini juga telah terpasang radar intai udara permukaan jenis Thales Smart –S MK2.



Merujuk ke spesifikasinya, PKR SIGMA 10514 punya bobot 2.400 ton, panjang 105 meter, dan lebar 14 meter. PKR dapat membawa 120 awak, dengan fasilitas hanggar, flight deck sanggup didarati helikopter seberat 10 ton. Dari segi performance, KRI RE Martadinata 331 mampu melaju sampai kecepatan maksimum 28 knots. Kemampuan jelajahnya maksimum hingga 5.000 nautical miles (setara 9.260 km), hal ini dapat dicapau jika kapal berlayar dengan kecepatan jelajah 14 knots. Bila kecepatan ditingkatkan ke 18 knots, maka jarak jelajahnya melorot ke 4.000 nautical miles (7.408 km).

Skipper: Target Drone Bawah Air Untuk Uji Tembak Torpedo TNI AL


Jelang latihan Armada Jaya 2016 pada bulan Agustus lalu, TNI AL sempat melakukan uji tembak torpedo SUT (Surface and Underwater) dari KCT (Kapal Cepat Rudal) KRI Ajak 653. Ada yang spesial dalam momen, pasalnya sebagai sasaran TNI AL menggunakan target drone bawah air. Target drone bawah air yang disebut Skipper ini boleh dibilang tidak banyak terpublikasi, padahal banyak pembaca yang bertanya-tanya tentang spek dan asal-usul sosok ‘kapal selam’ bersayap ini. Dan di tulisan ini akhirnya sosok Skipper berhasil kami bedah.Skipper resminya adalah tactical underwater drone atau bisa jugab disebut UUV (Unmanned Underwater Vehicle) yang dikembangkan oleh Dinas Penelitian dan Pengembangan AL (Dislitbangal). Skipper yang dijadikan target drone pada uji tembak torpedo terbuat dari komponen material utama berupa logam. Konstruksi Skipper sejatinya bukan barang baru, melainkan berasal dari ‘alat’ penyapu ranjau yang menjadi kelengkapan kapal buru ranjau TNI AL dari era Uni Soviet. Malahan stok-nya diambil dari yang tadinya sudah berstatus monumen di kesatuan. Namun mengutip pernyataan seorang perwira Dislitbangal, bahwa stok alat penyapu ranjau ini cukup banyak tersedia.

Semenjak disulap menjadi target drone, Skipper telah dilengkapi pendorong berupa 4 unit vector thruster. Sumber tenaganya berasal dari 1.500 watt thruster unit dengan 24 VDC 52,5 ampere. Selain itu Skipper dilengkapi 30 kgf forward thrust dan 25 kgf reserve thrust. Dukungan baterai yang tersedia menggunakan jenis lithium ion 1.2 kWh yang dapat diisi ulang per modul. Dengan sokongan tenaga tersebut, Skipper dapat melaju dengan kecepatan 3 knots dan endurance time 2 sampai 3 jam.




Lantas bagaimana cara Skipper agar dapat menarik perhatian torpedo? Pada bagian bawah bodi Skipper terdapat modul yang dirancang untuk mengeluarkan bising (getaran) – noise maker –laksanana propeller sebuah kapal, sehingga dari bising tersebut perangkat sonar pada torpedo dapat memburu Skipper.Apakah Skipper dapat dikendalikan? Tentu saja bisa, navigasi Skipper ditangani oleh seorang operator yang mengendalikan lewat laptop dan joystick. Saat Skipper melaju di permukaan air, maka operator dapat mengendalikan secara remote dan real time. Namun, saat Skipper harus menyelam fungsi kendali langsung dari operator tidak berlaku. Di bawah permukaan laut, Skipper melaju dengan koordinat yang sudah di setting sebelumnya, mirip prinsip pada GPS waypointpada drone udara.

Unit kendali Skipper.


“Waktu lamanya menyelam, sampai manuver ketika di dalam air sudah ditentukan lewat setting sebelumnya. Skipper akan muncul ke permukaan juga sesuai setting, selain itu saat propeller pendorong mati, otomatis Skipper akan muncul ke permukaan,” ujar salah seorang operator Skipper saat menjelaskan kemampuan alutsista ini di Indo Defence 2016. Kedepan akan diupayakan agar Skipper dapat dikendalikan langsung saat berada di bawah permukaan air, salah satu caranya dengan menggunakan radio berfrekuensi FM.
Skipper saat menjalankan peran sebagai target drone dilengkapi depth sensor, radio beacon with flashing light, magnetic compass, dan gyro sensor. Bila nantinya stok sisa alat penyapu ranjau eks Uni Soviet habis, kedepan Skipper akan dikembangkan dengan material baru dengan bahan komposit yang lebih ringan.
Spesifikasi Skipper:– Panjang: 2,5 meter– Berat di air: 300 kg– Diameter: 300 mm– Kedalaman selam: 150 meter– Kecepatan maks: 3 knots– Baterai: Lithium ion 1.2 kWh– Endurance: 2 -3 jam

Sumber : Indo Militer